Memahami Poligami sebagai Ibadah dalam Bab Nikah

Monday, January 18, 2016


Dalam memahami isu poligami, sering saya temukan kisah atau paradigma di masyarakat hanya berkisar seputar cinta, padahal, setelah memasuki fase pernikahan, kita semua akan sadar bahwa sebenarnya permasalahan cinta itu sederhana saja, karena masalah yang muncul setelah pernikahan akan jauh lebih besar dari sekedar cinta. Begitupun poligami, kompleksitas dari poligami tentu bukan hanya seputar konflik istri pertama dan istri kedua (sebagaimana yang sering diangkat dalam dunia per-film-an), oleh karenanya, hal ini perlu diluruskan, setidaknya dari beberapa sudut pandang.



Pertama, setiap amal ibadah dalam islam itu punya tingkatan-tingkatan. Dalam Islam ada ibadah shalat, shalat ini tingkatan paling tingginya adalah qiyamullail dan istikharah, tingkatan paling minimalnya ada shalat fardhu 5 waktu, selama seseorang shalat 5 waktunya bermasalah, pastikan dia juga tidak akan bisa laksanakan qiyamullail.

Dalam ibadah puasa, tingkatan paling tingginya ialah puasa Daud, tingkatan paling minimalnya puasa selama bulan ramadhan, selama seseorang melaksanakan puasa ramadhan aja tidak sanggup, pasti di luar ramadhan dia juga tidak akan laksanakan puasa daud. Nah, pemahaman akan tingkatan dalam ibadah ini penting, sehingga kita paham bahwa ibadah-ibadah wajib dalam islam, itu adalah taraf minimal yang harus kita lakukan dalam ibadah tersebut (karena kalau kita tinggalkan berdosa).

Tingkat amal ibadah ini, sepemahaman saya akan sesuai dengan tingkat keimanan, jika seseorang tingkat keimanannya hanya sanggup untuk memenuhi kewajiban shalat fardhu, ya belum bisa ia untuk rutin kerjakan shalat malam. Begitu pula kalo tingkat keimanan kita baru sampai puasa di bulan ramadhan saja, susah payah kalo mau puasa di luar bulan ramadhan. Oleh karenanya iman itu naik dan turun, naik karena amal shaleh dan ilmu, turun karena dosa dan maksiat, jangan heran kalau seseorang sibuk dengan ilmu dan amal shalehnya, akan mudah (lebih tepatnya Allah mudahkan) juga ia dalam mengerjakan kebaikan, sampai-sampai ia akan bisa mengerjakan setiap ibadah di tingkatan tertingginya (semoga kita termasuk di dalamnya). Nah, begitu pula ibadah yang akan jadi topik utama: poligami


Buat saya, nikah itu ibadah, dan poligami adalah tingkatan keimanan tertinggi dalam ibadah nikah. makanya, seseorang yang berpoligami dengan tujuan ibadah - dan sukses dengan poligaminya, dikarenakan driving force-nya tentu bukan sekedar kata "cinta", namun lebih dari itu, bahwa poligami adalah manifestasi ibadah dari keimanan tertinggi yang bisa seseorang lakukan dalam bab nikah.

Hal ini penting dipahami, sehingga ketika kita bicara poligami, maka kita sedang bicara tingkatan ibadah tertinggi, yang tentunya tidak bisa seseorang lakukan jika tingkat keimanannya belum mencapai kemampuan untuk melakukan poligami. Sederhananya, jika seseorang dengan satu istri saja masih sering bermasalah, setiap hari kerjanya cekcok, ya berarti memang keimanan dalam menjalankan ibadah nikahnya cukup dengan satu istri saja, jangan coba2 poligami, karena tentu tingkatan selanjutnya hanya untuk orang2 yang 'lulus' membangun keluarga dengan satu istri.


Poin kedua, jika kita bicara poligami, orang pada umunya akan bilang "si istri sakit hati" atau "wah, istri ikhlas dimadu". Pembicaraan yang muncul hanya seputar hubungan suami-istri. Di film2 bahkan dicitrakan konflik yang muncul hanyalah seputar kehidupan rumah tangga yang dipenuhi api cemburu antara istri pertama dengan istri kedua.

Sedikit mengupas, ternyata konsekuensi serta tanggung jawab dari poligami tentu jauh lebih besar dari pada itu, dari sejarah kita belajar justru konflik antar keturunan yang dampaknya jauh lebih besar. Seorang bapak bukan hanya harus kuat masalah finansial dan urusan membagi cinta dengan para istri, tapi juga menjaga kelangsungan keturunan dari istri-istri-nya. Anak-anak sang bapak dari beda ibu, mereka rawan konflik.

Sebagai contoh, kisah Yusuf a.s dan saudara tiri nya, satu ayah namun beda ibu, melahirkan kisah dahsyat yang lengkap diabadikan dalam Al Qur'an. Yusuf a.s dibenci saudara-saudaranya yg mengakibatkan penderitaan batin luar biasa bagi ayahnya, Ya'qub a.s.

Khalifah Harun Al Rasyid, memiliki anak Al Ma'mun dan Al Amin, satu dari ibu bangsa Persia, dan satu lagi dari ibu bangsa Arab. keduanya disumpah di depan ka'bah setelah kerajaan dibagi menjadi dua (Jazirah Arab dan Persia) untuk masing2 anak, namun, tak lama setelah Khalifah meninggal, mereka berperang sampai Al Amin terbunuh oleh pasukan saudara tirinya.

Kenalkah anda dengan Sultan Salahuddin al Ayyubi? Pahlawan al Quds. Setelah Salahuddin meninggal, anaknya Ali al Afdhal berperang melawan saudara tirinya Utsman al Aziz. Ada lagi Sultan Muhammad Al Fatih, pembuka konstantinopel, anaknya bernama Bayazid perperang dengan suadara tirinya, Cem. Keduanya berperang, tidak hanya itu, Cem didukung penuh Eropa untuk melawan saudara tirinya sendiri.

Poin pentingnya adalah, bahwa yang namanya ibadah nikah, wa bil khusus poligami, bukan hanya tentang cinta dan cemburu nya istri, kecemburuan itu normal, sesuatu hal yang wajar, namun poligami bicara jauh lebih besar dari pada itu, ia bicara tanggung jawab yang sangat besar bagi sang suami. Bahwa konflik poligami itu bukan hanya urusan kamar tidur, itu sudah by default seperti itu. Yang harus diperhatikan justru tanggung jawab terkait masa depan keturunannya dari istri yang berbeda, mereka rawan konflik, mulai dari berbagi kasih sayang (yang abstrak), hingga materi yang kongkret seperti menyoal warisan maupun kekuasaan.


Poligami itu hukumnya boleh atau sunnah (menurut pendapat yang lain), namun apa setiap orang bisa mengemban tanggung jawab serta dampaknya? Ibadah haji itu wajib, termasuk dalam rukun islam bahkan, namun dengan kondisi hari ini, apakah setiap muslim dapat melaksanakannya?

Dari beberapa sudut pandang di atas, saya hanya mau menyimpulkan bahwa isu poligami yang banyak diangkat sekarang ini, (mungkin) tujuannya hanya ingin terlihat seru saja, tergantung bagaimana permintaan pasar dan fenomena yang mayoritas ada di masyarakat, jauh dari sarana syiar apalagi pencerdasan terkait hikmah disyariatkannya poligami dalam islam. Sesuai dengan topik yang saya ungkap di bagian awal tulisan, bahwa sebenarnya, kembali isu yang ingin dimunculkan dengan adanya topik poligami ini ujung-ujungnya kembali hanya seputar cinta, sangat disayangkan.

Jika kita benar-benar memahami permasalahan poligami ini, kita akan melihat bahwa ternyata yang memiliki beban moral paling berat tentu saja sang suami, bukan sang istri. Lagi-lagi sisi tanggung jawab seorang laki-laki sekarang ini dibuat bias dengan diangkatnya topik poligami, sama bias nya seperti bicara "cinta" tanpa mengerti arti tanggung jawab sesungguhnya dalam mengemban sebuah rumah tangga. Saya kira, kita sudah harus berdamai dengan topik poligami sebagai seorang suami ataupun istri, di satu sisi, poligami merupakan ibadah yang telah Rasulullah SAW contohkan kepada kita, tapi di sisi lain, ia membutuhkan kapasitas serta tingkatan keimanan yang sangat tinggi, yang mungkin, tidak semua pria mampu melakukannya. Oleh karenanya jangan heran, "adil" menjadi syarat utama bagi orang yang ingin memiliki istri lebih dari satu, adil terhadap hak-hak setiap anggota keluarga, pun adil dalam memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Allahu a'lam.

Selasa, 8 September 2015
Disarikan dari berbagai tulisan dan pendapat beberapa muwajjih.

0 comments

Subscribe