Dimana Kerendahan Hatimu, Wahai Aktivis Dakwah

Friday, May 11, 2012


"Sesungguhnya diantara raja-raja Surga adalah orang yg rambutnya berdebu, bajunya kumal(lusuh), tidak ada perhatian pada dirinya, bila mereka meminta izin utk masuk menuju para penguasa tidak diizinkan, bila mereka melamar wanita, lamaran mereka ditolak, bila mereka berbicara, tak ada satupun yg memperhatikan mereka sehingga kebutuhan-kebutuhan mereka tersendat didalam kerongkongan dadanya, namun pada hari Kiamat, jika cahayanya dibagikan kepada seluruh manusia niscaya dapat mencukupi mereka”

Hadist Rasulullah saw dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7-hal.210
Sahabat, adakah kita tahu, betapa banyak aktivis dakwah masa kini yang sering berkata seperti ini, “Sebagai aktivis dakwah, antum harus dikenal akh, antum harus punya prestasi yang membanggakan akhi, antum harus punya pengaruh disana-sini, antum harus….”

Mungkin, tak sedikit aktivis dakwah yang mengira ketika amalan-amalan baiknya dilihat orang lain, ketika kehebatannya menjadi perhatian orang lain, merasa itu menjadi bagian dari dakwah islam itu sendiri. Tapi, tahukah antum bagaimana seorang Al mawardi merahasiakan seluruh karya tulisan-tulisannya hingga ia meninggal dunia karena takut keikhlasannya terkotori? Bagaimana seorang tabi’in yang merahasiakan tangisan dalam shalatnya selama 20 tahun dari istrinya karena takut akan riya’?

Sahabat, menjadi aktivis dakwah tak cukup dengan aktif dalam organisasi keislaman, tak bisa diukur hanya dengan banyaknya mutarobbi binaan. Pernahkah kita bercermin, apa kata dunia Islam tentang diri kita? Tak sedikit aktivis dakwah yang berbangga dengan label aktivis mereka, berbangga dengan tingkat tarbiyah mereka, tapi apakah itu yang kita butuhkan? Apa mungkin Islam ini tegak oleh orang-orang yang banyak berbicara namun kosong hatinya?

Sahabat, menjadi aktivis bukan berarti menjamin keselamatan kita di akhirat, sekalipun dengan banyaknya orang yang masuk ke dalam jalan ini lewat tangan-tangan kita, bukankah telah sampai kepada kita sebuah ayat yang sangat tegas dalam al-qur’an,

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65)

Lalu bagaimana bisa kita berdakwah dengan kecongkakan sebagai seorang aktivis, padahal kesombongan adalah kerabat yang sangat dekat dengan kesyirikan?
Sahabat, mari kita kikis keangkuhan kita yang mungkin ada karena status kita, status seorang aktivis yang notabene-nya sering menjadi tokoh di ranah-ranah strategis. Sudah saatnya kita sadari kembali, bahwa yang kita cari hanya semata-mata ridha Allah, bukan ridha manusia. Bukankah seorang ulama salaf, Sheikh Ibnu Taimiyah telah memperingatkan kita,

"Manusia yang terbaik adalah para nabi, maka orang yang paling jahat adalah orang yang meniru mereka (para nabi), namun mereka sebenarnya bukan termasuk golongan mereka sedikitpun, artinya mereka hanya meniru penampilan lahirnya saja".

Sahabat, jika kita masih bersikukuh dengan capaian prestasi-prestasi ubudiyyah kita, maka contohlah Hasan Al-Bahsri yang dengan ke-alim-annya masih dapat berkata "Saya takut Allah akan melemparkanku ke Neraka, tanpa mempedulikanku". Adakah hal itu melekat pada diri masing-masing kita?

Sahabat, janganlah kita berbangga hanya dengan status penyeru kebenaran dan pencegah kemungkaran, bukankah Usamah bin Zaid pernah mendengar sabda Rasulullah saw yang harusnya dapat menjadi pengingat bagi kita semua, segenap aktivis yang menyeru kepada kebaikan,

"Pada hari kiamat nanti di Neraka akan ada orang yang ususnya terurai, ia berputar di Neraka seperti keledai berputar dalam ikatannya. Para penduduk neraka yang mengililinginya mengatakan kepadanya, 'Wahai fulan kenapa kamu? Bukankah kamu dahulu di Dunia memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar?' Ia menjawab, 'Benar aku memerintah untuk berbuat kebaikan, tapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang perbuatan mungkar, tetapi aku melakukannya'." (HR. Bukhari Muslim)

Sahabat, mari kita bangun kembali kerendahan hati kita, menghinakan kembali diri kita dihadapan-Nya, teruslah mengemis hidayah sebagaimana do’a yang diajarkan oleh Rasulullah saw,

"Ya muqalibal qulub wa abshar tsabit qalbi ala diinika". (Wahai Yang membolak-balikkan hati dan penghilatan, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu).
Lalu para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa, apakah kamu mengkhawatirkan kami?"
Beliau menjawab, "Ya. Sesungguhnya hati-hati itu berada diantara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolak-balikkan sekehendak-Nya". (HR. Ahmad)

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu diberi petunjuk. Amin

0 comments

Subscribe